SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI AKUNTANSI

AKUKNTANSI

Bagi pelajar dan mahasiswa akuntansi tentu tidak asing lagi dengan sejarah perkembangan akuntansi. Tulisan ini hanya sebagai bahan untuk mengingatkan bagi yang telah pernah belajar akuntansi, dalam bahasa minangnya ‘maulang-ulang kaji’ atau ‘manikam jajak, manitih batang’, supaya ilmu yang telah kita peroleh dibangku kuliah tidak lupa dan hilang begitu saja. Untuk lebih jelasnya mari kita simak tulisan berikut ini !!!

Sejarah mencatat bahwa pencatatan akuntansi telah dimulai beberapa ribu tahun lalu di berbagai belahan dunia. Salah satu temuan petani mesir pada tahun 1915 berupa gulungan kertas papirus, yang kemudian dikenal dengan Papirus Zenon sebagai pemilik dari papirus tersebut, yang berisi informasi tentang proyek-proyek konstruksi, kegiatan pertanian, dan operasi sekitar abad ketiga sebelum masehi.

Papirus Zenon juga memberikan bukti sistem akuntansi yang terinci telah digunakan di Yunani sejak abad kelima sebelum masehi. Sistem akuntansi zenon ini berisi ketentuan-ketentuan akuntansi pertanggungjawaban, catatan tertulis atas seluruh transaksi, akun kusus untuk pembayaran upah pada karyawan, catatan persediaan, dan catatan akuisisi aset serta pelepasannya. Selain itu, terdapat bukti bahwa semua akun diaudit.

Selain itu, di Roma juga terdapat bukti pencatatan akuntansi yang terinci, tapi karena mereka menulis angka dengan abjad, seperti X, M C dan sebagainya, mereka tidak mampu mengembangkan sistem akuntansi terstruktur. Hal ini terjadi sampai masa pembaharuan, sekitar 1300-1500 M. Ketika orang-orang Italia dengan penuh semangat melakukan perdagangan kemudian kebutuhan untuk menyimpan catatan yang akurat muncul. Pedagang Italia kemudian memakai sistem angka Arab dan dasar aritmatika, dan tren yang berkembang menuju sistem pembukuan double-entry seperti sekarang kita gunakan.

Pada tahun 1494 seorang biarawan Italia, Fra Luca Pacioli, menulis sebuah buku tentang aritmatika yang memasukkan deskripsi pembukuan double-entry. Karya Pacioli, Summa de Arithmetica Geometria Proportioni et Proportionalita, tidak sepenuhnya menggambarkan pembukuan double-entry, melainkan diformalkan praktik dan ide-ide yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
Laporan laba rugi dan neraca muncul di sekitar 1600. Awalnya, motif utama laporan keuangan adalah untuk mendapatkan informasi mengenai modal.

Selanjutnya pada abad ke 19, dengan terjadinya evolusi industri di inggris menyebabkan kebutuhan akan informasi perusahaan sangat penting bagi para pemilik yang berada diluar struktur manajemen. Sipemilik dan calon pemilik atau investor ingin mengetahui prospek dan seberapa besar perusahaan dapat menghasilkan laba.

Masa yang panjang semenjak abad ke 14 sampai dengan awai abad ke 19 dikenal sebagai the age of stagnation karena dalam massa tersebut tidak terjadi perubahan yang berarti dalam format akuntansi walaupun terjadi perluasan praktek akuntansi double entry di Eropa. Perubahan kondisi politik, sosial dan ekonomi yang terjadi di era ini tidaklah cepat sehingga tekanan bagi praktek akuntansi untuk berubah juga kecil.

Pembentukan undang-undang perusahaan di Inggris pada tahun 1845 mendorong pengembangan standar akuntansi dan hukum yang kemudian dirancang untuk melindungi pemegang saham terhadap tindakan yang tidak benar oleh manajemen perusahaan.

Pada bagian akhir abad kesembilan belas, Revolusi Industri merambah ke negara Amerika Serikat, yang membawa dampak kepada kebutuhan akan prosedur akuntansi yang lebih formal dan terstandar. Disisi lain dengan munculnya kebijakan pemerintah Amerika Serikat dengan menarik pajak penghasilan perusahaan, menyebabkan kebutuhan perlunya pengukuran pendapatan dan dapat dihitung secara handal dan akurat.

Selama periode 1900-1915, konsep penentuan pendapatan tidak berkembang dengan baik. International Congress of Accountants 1904 menandai awal pengembangan profesi akuntansi yang diselenggarakan di Amerika Serikat.
Sepanjang perkembangan akuntansi sampai dengan masa revolusi industri, akuntansi dipraktekkan tanpa adanya aturan yang mengatur. Akuntansi dipraktekkan berdasarkan kebiasaan para akuntan. Dalam hal seperti ini tentunya yang menjadi andalan atas kualitas pencatatan akuntansi adalah niat baik dari akuntan penyusun laporan keuangan. Praktek ini berlangsung hingga terjadinya kekacauan dipasar modal pada tahun 1929 yang disebut dengan The Great Depresion.

Berawal dari kejadian ini, dimulailah serangkaian pertemuan antara perwakilan dari New York Stock Echange (NYSE) dan American Institute of Accountants (AIA). Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan investor, NYSE, dan akuntan dalam penyusunan laporan keuangan eksternal.

Demikian pula, pada tahun 1935 American Association of University Instructors in Accounting berubah nama menjadi American Accounting Association (AAA), mengumumkan niatnya untuk memperluas kegiatannya dalam penelitian dan pengembangan prinsip-prinsip dan standar akuntansi. Hasil pertama dari kegiatan ini adalah publikasi sebuah laporan singkat pada tahun 1936 yang berjudul “A Tentative Statement of Accounting Principles Underlying Corporate Financial Statements.” Dokumen ini meringkas konsep signifikan yang mendasari laporan keuangan pada saat itu.

Upaya kerja sama antara para anggota NYSE dan AIA diterima dengan baik. Namun, suasana paska depresi di Amerika Serikat ditandai dengan munculnya berbagai regulasi. Bahkan ada undang-undang yang mewajibkan auditor mendapatkan lisensi dari pemerintah Amerika Serikat setelah melewati serangkaian tes.

Dua bagian yang paling penting pada saat adalah undang-undang Securities Act tahun 1933 dan Securities Exchange Act tahun 1934 yang mengamanatkan pembentukan Securities and Exchange Commission (SEC). The SEC dibentuk untuk mengelola berbagai tindakan sekuritas. Di bawah kekuasaan yang diberikan oleh Kongres, SEC diberikan kewenangan untuk menyusun prinsip akuntansi dan praktek pelaporan. Namun demikian, karena SEC telah bertindak sebagai pengawas dan memungkinkan sektor swasta untuk mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi, otoritas ini telah jarang berperan. Namun, SEC telah memberikan tekanan pada profesi akuntansi untuk mempersempit perbedaan dalam praktek akuntansi.

Pada tahun 1937 AIA bergabung dengan American Society of Certified Public Accountants, membentuk organisasi yang lebih besar yang kemudian dinamai American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). Organisasi ini telah memiliki peningkatan pengaruh terhadap perkembangan teori akuntansi. Sebagai contoh, selama bertahun-tahun, AICPA membentuk beberapa komite dan dewan untuk menangani kebutuhan untuk lebih mengembangkan prinsip akuntansi. Yang pertama adalah Committee on Accounting Procedure (CAP). Hal ini diikuti oleh Accounting Principles Board (APB), kemudian berganti nama mejadi Financial Accounting Standards Board (FASB). Masing-masing badan tersebut telah mengeluarkan pernyataan tentang isu-isu akuntansi yang telah menjadi sumber utama prinsip akuntansi yang berlaku umum yang memandu praktek akuntansi saat ini.

Committee on Accounting Procedure (CAP)

Akuntan profesional menjadi lebih aktif terlibat dalam pengembangan prinsip akuntansi mengikuti pertemuan antara anggota New York Stock Exchange dan AICPA. Pada tahun 1939 Committee on Accounting Procedure (CAP) dibentuk. Komite ini memiliki wewenang untuk mengeluarkan pernyataan mengenai hal-hal berkaitan praktek dan prosedur akuntansi dalam rangka membangun praktek yang berlaku umum. Komite ini mulai mempublikasikan riset dan menerbitkan buletin terminologi akuntansi yang bertujuan agar lebih ada keseragaman dalam akuntansi dan audit. Komite ini menerbitkan sebanyak 42 bulletin dengan 42 topik pula dan beberapa topik mengatur akuntansi atas transaksi bisnis

Accounting Principles Board (APB)

Pada tahun 1959 metode merumuskan prinsip akuntansi yang dipertanyakan tidak muncul dari riset atau tidak berdasarkan teori. CAP juga dikritik karena bertindak dengan cara yang pelan dan mengeluarkan standar, yang dalam banyak kasus, tidak konsisten. AICPA menanggapi kekurangan CAP dengan membentuk Accounting Principle Board (APB). Tujuan dari badan ini adalah untuk memajukan ekspresi tertulis dari prinsip akuntansi yang berlaku umum, untuk mempersempit perbedaan dalam praktek, dan untuk membahas isu-isu yang belum diselesaikan dan kontroversial.

Namun dalam perkembangannya APB juga mendapat kritikan dan penolakan terhadap pernyataan (pronouncement) dan aturan yang dikeluarkan oleh badan ini.

The Financial Accounting Standards Board (FASB)

Sebagai hasil dari kritik yang tumbuh dari APB, pada tahun 1971, dewan direksi dari AICPA menunjuk dua komite. Wheat Committeeyang diketuai oleh Francis Wheat, adalah untuk mempelajari bagaimana prinsip-prinsip akuntansi keuangan harus ditetapkan.Trueblood Committee yang diketuai oleh Robert Trueblood, diminta untuk menentukan tujuan laporan keuangan.

Wheat Committee mengeluarkan laporannya pada tahun 1972 merekomendasikan bahwa APB dihapuskan dan The Financial Accounting Standards Board (FASB) dibentuk. Dewan baru ini terdiri dari wakil-wakil dari berbagai organisasi, berbeda dengan APB yang anggotanya semua dari AICPA. Para anggota FASB juga mendapatkan, tidak seperti anggota APB yang bekerja paruh waktu dan tidak digaji.

AICPA cepat mengadopsi rekomendasi dari Wheat Committee, dan FASB menjadi badan resmi dengan mengeluarkan standar akuntansi.

Misi FASB adalah untuk membangun dan meningkatkan standar akuntansi dan pelaporan keuangan untuk bimbingan dan pendidikan publik, termasuk emiten, auditor, dan pengguna informasi keuangan.

Standar Overload

Semenjak terbentuknya selama bertahun-tahun, FASB, SEC, dan AICPA mendapat kritik karena menerapkan standar akuntansi terlalu banyak pada komunitas bisnis. Masalah kelebihan standar ini telah sangat memberatkan bagi usaha kecil yang tidak memiliki sumber daya ekonomi untuk penelitian dan menerapkan semua pernyataan yang dikeluarkan oleh badan-badan otoritatif.

Kritik dari proses penetapan standar untuk usaha kecil juga menegaskan bahwa GAAP dikembangkan terutama untuk melayani kebutuhan pasar sekuritas. Banyak bisnis kecil tidak meningkat modalnya di pasar-pasar modal, oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa GAAP tidak dikembangkan untuk kebutuhan usaha kecil.

Evolusi Frase “Generally Accepted Accounting Principles (prinsip akuntansi yang berlaku umum)“

Salah satu hasil dari pertemuan antara AICPA dan anggota NYSE setelah terjadinya The Great Depretion adalah revisi kata-kata dari laporan audit yang dikeluarkan oleh CPA. Paragraf pendapat yang sebelumnya menyatakan bahwa laporan keuangan telah diperiksa dengan akurat. Terminologi ini diubah dengan mengatakan bahwa pernyataan yang “disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.” Ungkapan ini sekarang ditafsirkan sebagai mencakup konvensi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk menjelaskan praktek akuntansi yang berlaku pada waktu tertentu. Oleh karena itu, laporan keuangan yang adil hanya sebatas bahwa prinsip-prinsip yang adil dan laporan telah sesuai dengan prinsip-prinsip.

Akuntansi dalam Krisis awal tahun 2000

Sejarah kekacauan pasar modal tahun 1929 terulang lagi di awal tahun 2000, yang mana berawal dari kasus yang sangat dikenal adalah kasus Enron yang memanipulasi laporan keuangannya. Kasus ini juga menyeret kantor akuntan besar Arthur Andersen (AA) yang dikenal the Big Five kantor akuntan publik.
Kasus Enron hanyalah satu dari serangkaian kegagalan akuntansi dan audit yang mencakup HealthSouth, Worldcom, dan Tyco. Kegagalan ini dipicu oleh serangkaian peristiwa kritis yang dikaitkan dengan perubahan dari manufaktur ke ekonomi jasa di Amerika Serikat dan peningkatan besar yang dihasilkan dalam jasa konsultasi oleh kantor akuntan publik.

Respon atas kasus ini mirip dengan apa yang dilakukan menghadapi Great Depression tahun 1930. Politisi di parlemen AS didukung oleh masyarakat profesional akuntansi bereaksi cepat dimana tahun 2002 itu juga diundangkanlah apa yang dikenal dengan the Sarbanes-Oxley Act. Undang-undang ini dirancang untuk mengembalikan kepercayaan publik dengan mengurangi kemungkinan terjadinya kisah-kisah manipulatif seperti telah terjadi sebelumnya itu. Hal ini dilakukan dengan memperkuat corporate governance dan memperketat fungsi audit baik audit internal ataupun audit eksternal. Untuk itu dibentuklah Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB) yang berkuasa menentukan standar auditing. Dengan undang-undang ini, regulasi yang mengatur profesi audit dan pelaksanaan audit dipertegas dan diperketat. Misalnya auditor tidak boleh memberikan layanan jasa non-audit kepada kliennya. Disamping itu eksekutif non-manajerial yang fungsi utamanya adalah pada pengawasan (oversight), yang kita kenal sebagai dewan komisaris, diharuskan memiliki institusi komite audit dimana tugas utamanya memastikan kredibilitas laporan keuangan. Auditor yang mengaudit laporan keuangan diharuskan untuk berkomunikasi dengan komite audit. Pada dasamya, undang-undang ini mereformasi tata-kelola pelaporan keuangan (governance over financial reporting) dengan harapan menghilangkan praktek akuntansi dan pelaporan keuangan yang manipulatif. Misalnya, dengan diharuskannya oleh undang-undang berfungsinya komite audit, diharapkan semacam kolusi antara akuntan penyusun laporan keuangan dengan akuntan pengaudit laporan keuangan dapat dihindarkan. Langkah-langkah reformasi tata-kelola pelaporan keuangan seperti ini, juga diikuti oleh banyak negara lain termasuk Australia dan juga Indonesia.

Sarbanes-Oxley Act juga mengubah cara FASB didanai. Sebelumnya, sekitar sepertiga dari anggaran tahunan FASB berasal dari sumbangan sukarela dari Kantor Akuntan Publik, AICPA, dan sekitar seribu perusahaan individual. Dalam SOX, kontribusi sukarela mereka akan diganti dengan iuran wajib.
Standar Akuntansi Internasional

Masyarakat profesi akuntansi dan audit sekarang sedang melakukan reformasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan. Reformasi ini dipelopori oleh dewan standar akuntansi intemasional. International Accounting Standards Board (IASB) yang berbasis di London dan dibentuk tahun 2001 yang sebelumnya dikenal sebagai International Accounting Standards Committee (IASC). Perubahan ini bukanlah hanya perubahan nama tetapi adalah penguatan struktur govemansi untuk menjadikan dia lebih independen. IASB ini bekerja untuk kepentingan publik mengembangkan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi. Dengan standar akuntansi global ini diharapkan informasi laporan keuangan menjadi transparan dan dapat dibandingkan secara global pula.

Proses penyiapannya partisipatif menjadikan produk dewan standar internasional ini dapat diterima oleh dewan standar akuntansi nasional di berbagai negara termasuk negara-negara yang telah maju praktek akuntansi keuangannya seperti Australia dan negara-negara tergabung di Uni Eropa. Amerika Serikat walaupun lebih kemudian dari negara-negara lain akhimya menyatakan pula keberpihakannya. Dewan penyusun standar nasional AS, Financial Accounting Standards Board,pada 2002 menjalin kerjasama dengan IASB dan menyatakan komitmen yang dikenal dengan Norwalk Agreement untuk bersama-sama mengembangkan standar akuntansi yang kompatibel dan berkualitas tinggi yang dapat digunakan baik untuk pelaporan keuangan domestik maupun lintas negara.
Reformasi Standar Akuntansi dan Pelaporan

Ada dua reformasi yang dilakukan. Pertama, akuntansi keuangan yang selama ini berbasis biaya historis (historical cost accounting) mulai digerakkan menuju apa yang disebut dengan fair value accounting. Kedua, standar akuntansi yang selama ini disusun dengan pendekatan berbasis ketentuan (rules based approach) direvisi dengan standar akuntansi dengan pendekatan berbasis prinsip (principles based approach).

Setelah upaya menyusun rerangka konseptual/teori dan standar akuntansi dilakukan selama hampir tujuh puluh tahun, terjadinya krisis ekonomi global diawal dasawarsa 2000an membawa kesadaran bahwa standar akuntansi yang disusun tersebut terlalu kompleks dan mengatur terlalu detil bagaimana sebuah transaksi harus diakuntansikan dan dilaporkan. Rumusan standar akuntansi tersebut bagaikan rumusan peraturan. Menghadapi standar yang demikian yang dilakukan para penyusun laporan keuangan adalah berupaya untuk mencari celah diantara rumusan peraturan-peraturan tersebut. Bila tidak ada celah yang bisa dieksploitasi, mereka berinovasi menciptakan proses berbisnis baru yang perlakuan akuntansinya dapat lolos dicelah-celah peraturan tersebut. Inilah pada dasarnya yang dilakukan oleh Enron dan WorldCom.

Dampak lain dari pengaturan yang terlalu detil tersebut adalah semakin mengecilnya tempat bagi para akuntan penyusun laporan keuangan dan auditor yang mengauditnya untuk menggunakan judgement profesional mereka.

Literatur:

Schroeder, Richard G., Myrtle W. Clark, and Jack M. Cathey, 9th edition. Financial Accounting Theory and Analysis: Text and Cases. John Wiley & Sons, 2009, Chapter 1: The Development of Accounting Theory

Rasyid, ER., Pelaporan Keuangan Semenjak Akhir 1800an Sebelum the Great Depression ke Awal 2000an Setelah Krisis Global Ekonomi: Refleksi Integritas Akuntan, Pidato Pengukuhan GB Akuntansi, Universitas Andalas, 2010

9 thoughts on “SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI AKUNTANSI

  1. HariFDay mengatakan:

    Mantabs bro artikelnya.. Bisa dijadiin sebagai bahan acuan buat tugas..
    Senang sekali bro Ridwan update blog lagi ..😀

  2. arini mengatakan:

    Mantap

  3. silmi mengatakan:

    Boleh di Share ga? Mohon Ijin

  4. Ceret Klasik mengatakan:

    Perkenalkan bro, ini blog baru saya.. blog lama untuk sementara non aktif dulu. Rencananya domain blog yang lama buat dijadiin usaha..🙂

  5. Anton mengatakan:

    bagus nih lumayan buat referensi tugas thank’s bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s